Misi Maybank Mempromosikan Tenun Khas ASEAN

Misi Maybank Mempromosikan Tenun Khas ASEAN

Blog Single

SWA.CO.ID, MATARAM—Banyak ditemuinya budaya menenun di berbagai wilayah ASEEAN membuat Maybank punya inisiatif untuk mempromosikan tenun khas ini ke mancanegara. Baru-baru ini perusahaan asal Negeri Jiran tersebut, meluncurkan sebuah program pemberdayaan wanita bertema “Maybank Eco Weaver’ yang dirancang untuk memperkaya peran strategis pengrajin tenun dalam menciptakan independensi ekonomi.

Chairman Maybank Group, Tan Sri Dato’ Megat Zaharuddin Megat Mohd. Nor, mengungkapkan, kehadiran Maybank di 10 negara Asean bisa memungkinkan perusahaan untuk membawa misi tersebut. Tak hanya memberikan pelatihan di negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia dan Kamboja, Maybank melalui Maybank Foundation juga memberikan kredit microfinance terhadap ratusan penenun.

Di Indonesia, Maybank bekerja sama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) untuk melakukan pelaksanaan program berbagai pelatihan semisal pengetahuan teknik tenun, proses pewarnaan alami, pemasaran, promosi dan literasi finansial. Adapun di Kamboja, Maybank melakukan kemitraan dengan Ngorn Vanntha dan Color Silk, untuk melakukan pembangunan Maybank Silk Weaving Centre.

“Eksistensi kami di regional, yang berada di 10 atau semua negara ASEAN memungkinkan kami membawa misi yang terintegrasi. Sangatlah menggembirakan bahwa dalam jangka waktu yang singkat, program kami di Indonesia dan di Kamboja telah mendapatkan perhatian yang luar biasa, memberikan dasar yang kuat bagi kami untuk mengembangkannya ke Laos tahun depan,” ujar Tan Sri Dato’ Megat Zaharuddin.

Diwawancarai terpisah CEO Maybank Foundation Shahril Azuar Jimin, mengungkapkan, Maybank Foundation telah menglokasikan dana sebesar US$ 400.000 untuk program Woman Eco Weaver, dengan rincian US$ 200.000 di Indonesia, dan US$ 200.000 dollar di Kamboja.

Selain program tersebut, Maybank Foundation juga punya program-program flagship lainnya, seperti program program pembinaan kewirausahaan untuk kaum disabilitas atau RISE (Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship), program budaya antar negara Asean bertajuk Katakhata , program pembinaan anak muda ASEAN bertajuk eMpowering Youth Across Asean, program pendidikan finasial bertajuk Cashville Kidz dan program pelatihan bertajuk Maybank TLC – Training & Learning Centre.

Setiap negara, ia ceritakan mendapatkan fasilitas flagship yang berbeda-beda tergantung kebutuhannya. Di Indonesia misalnya, Maybank memfokuskan diri ke dalam dua program, yaitu program RISE dn Women Eco Weaver. Pada tahun lalu, ia mengungkapkan terdapat dana CSR sebesar 70 juta Ringgit yang dikelola di bawah Maybank Foundation. “Pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu fokus Maybank di Indonesia,” ungkapnya. Maybank memiliki komitmen untuk selalu berada di tengah komunitas serta tumbuh dan berkembang bersama komunitas, termasuk komunitas perempuan pengrajin tenun.

Direktur Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, Mia Ariyana, mengatakan kerja sama dengan Maybank untuk membantu para penenun sudah dijajaki sejak awal tahun ini yang tersebar di empat lokasi yaitu Lombok Timur, Lombok Tengah, Sawah Lunto dan Tanah Datar Sumatera Barat.

Dari 400 penenun yang menjadi anggota asosiasi, sebanyak 80 di antaranya yang kemudian membentuk kelompok usaha telah mendapatkan bantuan modal sesuai kebutuhan masing-masing. Rentan nominal bantuan modal yang diberikan mulai dari Rp 5 juta per orang sampai Rp 25 juta per kelompok. “Dalam program yang berlangsung selama tiga bulan ini, kami ingin semua anggota merasakan bantuan modal dari Maybank,” ujar Mia.

Selain bantuan modal usaha, Mia melanjutkan, asosiasi juga memberikan pelatihan bagi para penenun mengenai jenis dan teknik yang diminati pasar dan memberi nilai lebih. Contoh, jika selama ini penenun menggunakan pewarna benang dari bahan kimia yang dibeli di pasar, sekarang mereka mesti memakai pewarna benang alami dari berbagai macam tanaman, seperti kayu secang, daun jambu, daun mangga, dan buah pinang. “Mereka juga diberi pengetahun bagaimana mengelola keuangan sederhana sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan modal,” ujar Mia. (Ananda Widhia Putri)