Maybank Kucurkan Kredit Khusus untuk Penenun

Maybank Kucurkan Kredit Khusus untuk Penenun

Blog Single
KERJA SAMA : Chairman Maybank Group, Tan Sri Dato’ Megat Zaharuddin Megat Mohd. Nor bersama Direktur Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro, Mia Ariyana memantau aktivitas para penenun dalam acara launching "Maybank Women Eco Weavers" di Lombok. FOTO : Feddri Bonco

TEMPO.CO, MATARAM--Maybank meluncurkan program pemberdayaan ekonomi bagi komunitas perempuan perajin tenun melalui program "Maybank Women Eco Weaves". Presiden Direktu Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan sengaja menyasar penenun karena kegiatan yang mereka lakoni merupakan bentuk pelestarian budaya dan keterampilan itu sudah melekat secara turun-temurun. "Menenun juga menjadi mata pencarian sebagian besar perempuan sembari mengurus rumah tangga," kata Taswin di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu 2 November 2016.

Program "Maybank Women Eco Weavers" yang berjalan melalui Maybank Foundation ini hadir di Indonesia dan Kamboja. Di Indonesia, program ini diterapkan di Lombok Timur dan Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat; serta Sawahlunto dan Tanah Datar di Sumatera Barat. Dalam memberikan bantuan kepada penenun di empat daerah itu, Maybank menggandeng Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) untuk mengidentifikasi apa saja kebutuhan para penenun. 

"Di Indonesia, kami memberikan  bantuan berbentuk mikro financing," ujar CEO Maybank Foundation Shahril Azuar Jimin. Sedangkan di Kamboja, Shahril menjelaskan, Maybank bermitra dengan lembaga bernama Ngorn Vanntha dan Color Silk untuk membangun Maybank Silk Weaving Centre pada awal tahun ini. Di tempat itu, sebanyak 25 perempuan berlatih menenun dan 80 perempuan lainnya bercocok tanam pohon murbai -bahan penting untuk memproduksi benang sutera.

Direktur Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, Mia Ariyana mengatakan kerja sama dengan Maybank untuk membantu para penenun sudah dijajaki sejak awal tahun ini. Dari 400 penenun yang menjadi anggota asosiasi, sebanyak 80 diantaranya yang kemudian membentuk kelompok usaha telah mendapatkan bantuan modal sesuai kebutuhan masing-masing. Rentan nominal bantuan modal yang diberikan mulai dari Rp 5 juta per orang sampai Rp 25 juta per kelompok. "Dalam program yang berlangsung selama tiga bulan ini, kami ingin semua anggota merasakan bantuan modal dari Maybank," ujar Mia.
Selain bantuan modal usaha, Mia melanjutkan, asosiasi juga memberikan pelatihan bagi para penenun mengenai jenis dan teknik yang diminati pasar dan memberi nilai lebih. Contoh, jika selama ini penenun menggunakan pewarna benang dari bahan kimia yang dibeli di pasar, sekarang mereka mesti memakai pewarna benang alami dari berbagai macam tanaman, seperti kayu secang, daun jambu, daun mangga, dan buah pinang. "Mereka juga diberi pengetahun bagaimana mengelola keuangan sederhana sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan modal," ujar Mia.

Seorang penenun yang kelompoknya mendapatkan bantuan modal, Mariani, 25 tahun, mengatakan sejak memakai pewarna alami, harga kain tenunnya menjadi lebih bernilai di pasaran. Singkatnya, harga kain yang dibuatnya lebih tinggi dibanding kain yang ditenun dengan benang sintetis. Selain itu, target konsumen kain tenun dengan pewarna alami juga berbeda dengan kain kebanyakan, sekaligus mendapat bantuan dalam membangun jaringan pemasaran. "Sekarang penghasilan saya lebih dari Rp 1 juta sebulan, ini jauh lebih baik," ujar warga Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. (Rini K)